Warga Sumba Barat Daya Rasakan Gempa Kuat 3 Detik

SHARE

Jakarta, Kominfo - Warga Kabupaten Sumba Barat Daya merasakan gempa kuat sekitar 3 detik. Gempa terjadi pada Minggu (9/8/2020) sekitar pukul 11.52 WIB. BMKG merilis gempa berkekuatan M5,0 dengan titik episenter pada kedalaman 10 km.

Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memantau laporan otoritas setempat bahwa warga panik dan keluar rumah.

"Sementara ini, pemerintah setempat di Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang melaporkan warga mereka merasakan gempa kuat," ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati, dalam keterangan tertulis yang diterima InfoPublik, Minggu (9/8/2020).

Menurut dia, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi pusat gempa berada di laut 25 km barat daya Kodi, Sumbar Barat Daya. 

BMKG mencatat skala MMI gempa sebagai berikut, Tambolaka IV-V MMI, Waingapu III – IV, Bima dan Waibakul III dan Labuan Bajo II. Skala MMI atau Modified Mercalli Intensity ini merupakan satuan untuk mengukur kekuatan gempa bumi, sedangkan skala IV menunjukkan warga yang berada di dalam dan luar rumah merasakan gempa, serta gerabah pecah, jendela aatu pintu berderik dan dinding berbunyi. 

Sedangkan V MMI, ini menunjukkan gambaran kekuatan getaran dirasakan hampir semua penduduk, orang banyak terbangun, gerabah pecah, barang-barang terpelanting, tiang-tiang dan barang besar tampak bergoyang, bandul lonceng dapat berhenti. Gempa ini tidak memicu terjadinya tsunami. 

Hasil analisis sebelum gempa pada Minggu (9/8/2020) pagi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebutkan, berdasarkan lokasi pusat gempa bumi, kedalaman dan data mekanisme sumber dari GFZ Jerman, serangkaian kejadian gempa bumi di sekitar Sumba Barat Daya diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas sesar normal. 

PVMBG mencatat.sebelumnya pada 5 Agustus 2020 terjadi gempa bumi di sekitar lokasi pusat gempa bumi tanggal 8 Agustus 2020 yang juga diakibatkan oleh sesar normal. Sesar normal tersebut terbentuk akibat proses penunjaman antara lempeng Eurasia dan mikro kontinen pada akhir Jaman Kapur di selatan Pulau Sumba.

PVMBG memonitor terjadi gempa sebanyak tiga kali pada Sabtu kemarin (8/8). Gempa pertama tercatat pada pukul 17.17 WIB. Berdasarkan data dari BMKG, lokasi pusat gempa bumi berjarak 38,7 km barat daya Kota Tambolaka, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Gempa tersebut berkekuatan M5,0 dengan kedalaman 10 km.

Berikutnya, gempa kedua terjadi pada 17.23 WIB dengan pusat gempa 61,6 km selatan-barat daya Kota Tambolaka. Gempa memiliki magnitudo 5,5 dan kedalaman 10 km. Sedangkan kejadian ketiga, gempa terjadi pada pukul 17.45 WIB. Lokasi berada pada 57,4 km selatan – barat daya Kota Tambolaka dengan kedalaman 10 km. 

Ia menghimbau agar masyarakat Indonesia selalu siap siaga dan waspada dalam menghadapi potensi gempa bumi.

Menurut dia, seorang peneliti dari Brigham Young Univeristy Ron Harris selalu mengingatkan bahwa kita jangan melupakan sejarah.

Ron Harris telah menghabiskan waktu dalam melakukan penelitian paleotsunami di beberapa lokasi di seluruh Indonesia seperti di pesisir Sumatera, Jawa, Bali, Maluku, Nusa Tenggara Timur.

"Dari kajian paleotsunami itu, ia mendapatkan catatan sejarah dari tahun 1500 bahwa telah tejadi lebih dari 1.000 sejarah gempa besar dan 95 tsunami," tuturnya. (Foto: BMKG)