Bupati Sumba Barat Daya Buka Kegiatan Sosialisasi dan Rembuk Stunting

SHARE

Tambolaka, Kominfo – Bupati Sumba Barat Daya (SBD) dr. Kornelius Kodi Mete membuka kegiatan rembuk stunting secara resmi di Halaman Kantor Bupati Kabupaten SBD Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu (19/8/2020).

Pembukaan kegiatan rembuk stunting disaksikan oleh Kasubid Pengembangan SDM Bappelitbangda Propinsi NTT Bonavantura Taco, Ketua DPRD SBD Rudolf Radu Holo, Asisten Pembangunan dan Perekonomian Kabupaten SBD Daud Umbu Moto.

Kemudian, Ibu Ketua Penggerak PKK Margareta W. Tatik Mete Kepala Bappelitbangda SBD Samuel Boro, Kadis Kesehatan SBD drg. Yulianus Kaleka, Kadis PMD Dominggus Bulla.

Serta, Kadis Kominfo SBD Rihimeha A. Praing, dan beberapa pimpinan OPD lainnya, para Camat se-Kabupaten SBD, dan para Kepala Desa se-Kabupaten SBD.

Dalam sambutan Bupati dr. Kornelius Kodi Mete mengatakan stunting merupakan salah kendala yang menghambat pertubuhan balita sampai beranjak pada usia dewasa. Pencegahannya harus dimulai dari tingkat desa, kecamatan sampai kabupaten secara serius.

“Ini menjadi bagian untuk kita dan tanggungjawab kita bersama, yang tahu balita yang mengalami stunting adalah kepala desa, camat dan saya. Kepala desa yang lebih tahu dan yang mengenal tempat balita itu berada dan lebih tahu balita siapa dan orang dari balita yang mengalami stunting tersebut,” katanya.

Lebih lanjut Bupati SBD menuturkan, dulu tahun 2007 yang lalu saat Kabupaten SBD mekar dari Sumba Barat tidak satu balita pun yang mengalami stunting.

Dan Puskemas belum sampai 16, tapi kenapa setelah ada penambahan Puskesmas bisa balita yang mengalami stunting.

Kalau penambahan Puskesmas, seharusnya tidak ada balita yang memgalami stunting, tapi ini bisa terbalik dan angka stunting untuk semakin meningkat di tahun 2020.

Khusus untuk Kabupaten SBD ada 12 Desa yang mengalami angka stunting tertinggi, dan ini yang menyebabkan peningkatan angka stunting di SBD.

Sehingga Kabupaten SBD berada dalam angka tertinggi stunting-nya di Propinsi NTT, dan seharusnya kita berada pada angka 10 besar bebas stunting.

Bupati juga mengajak semua Kepala Desa untuk bersama-sama menangani stunting sampai di akhir tahun 2020 dengan mengalokasikan dana secara khusus dalam penanganan stunting.

Karena selain saya sebagai bupati yang menaruh Lambang Garuda di dada, Kepala Desa juga menaruh Lambang Garuda di dada.

“Kalau bisa di tahun 2021 mendatang angka stunting untuk Kabupaten SBD tidak ada lagi balita yang mengalami stunting. Untuk itu kita harus benar-benar menangani secara serius mulai dari tingkat deda sampai pada tingkat kabupaten” ujarnya. (MC. Kabupaten Sumba Barat Daya/Isto/toeb)