Proses Pembangunan Forum Inklusi di SBD Masih Rentan

SHARE

Tambolaka, Kominfo – Proses pembangunan Forum Inklusi di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) masih rentan. Dukungan Pemda SBD menjadi penentu dalam membangun Forum Inklusi di Kabupaten SBD untuk membantu kaum penyandang disabilitas dan kelompok rentan yang membutukan perhatian.

Demikian diungkap oleh Ketua Forum Inklusi Maria M. A. Lele Biri saat berbincang dengan media Kominfo dan media lokal Suara Jarmas SBD di ruang kerjanya kantor Bapelitbangda, Kabupaten SBD, Propinsi Nusa Tenggara Timur, Rabu (23/9/2020).

Forum ini dibangun oleh lembaga Humanity and Inclusion (HI) gandeng dengan Circle of Imagine Society (CIS) yang sudah menyelenggarakan pelatihan penulisan praktik baik selama 2 hari di Villa Redemptoris Weekelo tanggal 17-18 September 2020 yang lalu dan diikuti oleh Kabid Litbang Bapelitbangda SBD, Dinas PMD, Koperasi Swastisari, PAKTA Sumba, Weyk GKS Mata, YHS dan Pers Kominfo dan Media Suara Jarmas SBD.

Pelatihan yang berbasis pada Pembangunan Ekonomi Inklusif Berkelanjutan (PEIB) bertujuan untuk berkontrbusi pada pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan melalui partisipasi organisasi masyarakat sipil dalam pembangunan daerah yang inklusif dan merata di NTT.

Pada hari pertama pelatihan (17/9/2020) peserta mendapatkan materi MIW lalu peserta pelatihan dibagi menjadi dua kelompok untuk melakukan presentase, diskusi dan permainan tentang deskripsi dan tahapan proses MIW, pentingnya keterlibatan multi stakeholder dalam proses MIW, fungsi dari multi stakeholder, alur yag harus diambil untuk jalur advokasi, kriteria praktik baik, alur dokumentasi, analisasis dan validasi praktik baik.

Pada hari kedua (18/9/2020) penjelasan dan kerangka dari materi praktik baik. Keterlibatan multi stakeholder dalam membangun komitmen, kesepakatan, dan rencana aksi untuk perubahan.

Mengumpulkan, analisis dan dokumentasi praktik baik. Aksi untuk perubahan (replikasi) advokasi berbasis bukti dalam praktek baik. Kelompok rentan termasuk penyandang disabilitas menjadi pusat dalam proses ini.

Kepada media, ketua Forum Inklusi Maria M. A. Lele Biri mengatakan pembangunan forum inklusi membutuhkan kerjasama dan bergandengan tangan agar proses ini lebih cepat. Karena, pembangunan forum inklusi di SBD masih rentan berdasarkan kajian.

“Lewat kesempatan ini, kita harus bersama-sama untuk saling mengingatkan kembali bagaimana merencanakan khusus pembangunan Forum Inklusi,” katanya.

Anggi juga menjelaskan, untuk target jangka pendek beberapa bulan di akhir tahun 2020 adalah sesuai pertemuan tim itu adalah memperingati hari disabilitas dan advokasi awal yang akan dilakukan adalah khusus anak-anak yang berkebutuhan khusus dan penyandang disabilitas lainnya.

Kita juga akan melakukan target kepada perempuan melalui kopi yang walaupun sasarannya secara menyeluruh. Tetapi lewat forum inklusi tersebut kita juga melalui visi Inklusi kita masuk lewat peran perempuan.

Dirinya mengaku senang dan berbangga, bahwa forum inklusi ini bisa diaktifkan kembali. Karena ini merupakan mimpi kita bersama dan merupakan prioritas utama dari tingkat pusat sampai ke tingkat bawa untuk melihat orang-orang yang terpinggirkan dan selama ini yang terabaikan untuk diurus.

"Padahal mereka itu adalah tanggung jawab kita bersama. Dan saya juga berterima kasih kepada HI dan CIS Timor yang sudah membuka kembali forum inklusi untuk membantu kaum penyandang disabilitas, kelompok rentan dan lain sebagainya” tuturnya.

Hal yang sama juga diungkap oleh Meriana Noda Ngara Sekretaris Forum Inklusi, bahwa dirinya sangat berterima kasih dengan adanya Forum Inklusi. Kita benar-benar terlibat di dalamnya forum ini sebagai multi stakholder.

Dimana semua pihak terlibat di dalamnya, dan untuk Forum Inklusi sendiri sudah perna melakukan kegiatan tahun lalu terkait hari disabilitas internasional dan pertama dilakukan di Kabupaten SBD.

Dan kita ketahui bersama bahwa forum jni sudah pernah ada, jadi kita hanya ingin bagaimana forum ini kembali bersemangat dengan multi stakholder yang ada sehingga ada deklarasi forum inklusi yang dilakukan beberapa waktu lalu meskipun pekerjaan itu sudah dilakukan jauh sebelumnya.

Ia berharap melalui forum ini semua isu-isu selama ini yang belum berjalan dengan baik. Proses perencanaan pembangunan di daerah itu melalui forum ini menjadi wadah kita bersama untuk semua isu apa saja yang ada di dalam forum ini.

"Jadi kita harus sama-sama mendorong proses perencanaan pembangunan yang lebih baik. Tidak hanya kita mendorong di pemerintahan, tetapi juga di lembaga swastanya termasuk lembaga penyedia layanan,” tuturnya. (MC. Kabupaten Sumba Barat Daya/Isto/toeb)