Skip to content Skip to left sidebar Skip to footer

Wakil Bupati SBD Buka Climate ed-Havkathon Inklusif

​Tambolaka, Kominfo SBD – Wakil Bupati Sumba Barat Daya, Dominikus A.R. Kaka, secara resmi membuka kompetisi pembelajaran inovatif Climate ED-Hackathon pada hari Jumat pagi, 12 Desember 2025.
​Acara kolaboratif ini bertajuk “Penciptaan Bersama materi pembelajaran Climate ed-hackathon sekolah pesisir yang berpusat pada anak-anak responsif gender dan inklusif disabilitas,” dan diselenggarakan di lantai 8 Hotel Sima, Tambolaka.
Adapun yang hadir pada Kegiatan ini, Tim genre–cis dan save the children indonesia,Para juri, (ibu dr. Getrudis kerans,m.sc, ibu pupu purwaningsih,ma, pater mikael keraf,cssr, dan bapak dr. Mikael sene,mp), Perwakilan uptd pendidikan dan kebudayaan provinsi nusa tenggara timur (ibu maria theodora mare bau,spd), Para perwakilan dari bapperida, dp3ap2kb, bpbd, dinas pendidikan dan kebudayaan, dan dinas lingkungan hidup kabupaten sumba barat daya, Para perwakilan dari universitas, yayasan pendidikan, lembaga mitra, media, dan komunitas kabupaten sumba barat daya, Para kepala sekolah, guru, dan pengawas sekolah, dan para siswa-siswi.
​Dalam sambutan pembukaannya, Wakil Bupati Dominikus A.R. Kaka menyoroti urgensi edukasi perubahan iklim yang disesuaikan dengan konteks wilayah.
​”Sumba Barat Daya adalah wilayah kepulauan dengan risiko iklim yang tinggi. Kompetisi ini bukan hanya ajang lomba, tetapi upaya serius kita untuk menghasilkan kurikulum yang berpihak pada anak-anak dan dapat langsung digunakan oleh sekolah-sekolah di pesisir,” tegas Dominikus A.R. Kaka.
​Beliau juga menekankan bahwa materi yang dihasilkan harus mampu memberdayakan anak-anak sebagai agen perubahan, sambil memastikan bahwa pendidikan lingkungan ini responsif gender—memberi ruang yang sama bagi perempuan dan laki-laki—serta inklusif disabilitas, di mana materi ajar harus dapat diakses oleh semua siswa.
​Kegiatan Hackathon ini diikuti oleh total 30 tim peserta yang berasal dari berbagai latar belakang, termasuk:
​Guru-guru dari sekolah pesisir di Sumba Barat Daya.
​Mahasiswa program studi kependidikan dan lingkungan.
​Aktivis komunitas dan Organisasi Penyandang Disabilitas (OPD).
​Praktisi teknologi pendidikan.
​Kepala Dinas Pendidikan Sumba Barat Daya menjelaskan bahwa kolaborasi multidisiplin ini penting untuk menghasilkan prototipe materi yang tidak hanya akurat secara ilmiah, tetapi juga mudah dicerna, menarik, dan relevan secara budaya.
​Acara yang berlangsung sehari penuh ini menargetkan penciptaan materi yang fokus pada dua aspek utama:
​Adaptasi Lokal: Menciptakan materi yang spesifik mengenai cara adaptasi masyarakat pesisir Sumba terhadap kenaikan permukaan laut, pengamanan sumber air, dan perlindungan ekosistem bakau.
​Aksesibilitas Penuh: Memastikan materi tersedia dalam berbagai format, seperti panduan visu
al, audio deskriptif, dan format cetak besar, untuk mendukung pembelajaran bagi siswa dengan disabilitas.
​Wakil Bupati berharap, hasil dari Hackathon ini akan menjadi prototipe kurikulum resmi yang diadopsi pemerintah daerah untuk memperkuat resiliensi pendidikan dan masyarakat Sumba Barat Daya dalam menghadapi tantangan perubahan iklim global.